Seiring
dengan adanya semangat kebangsaan pada dasawarsa 20-an, Ir.Soeratin
Sosrosoegondo mendirikan Persatuan sepakbola seluruh Indonesia atau yang
kita kenal dengan PSSI, yang tujuan utamanya adalah untuk mewadahi
kegiatan sepakbola di Nusantara dan sebagai suatu alat perjuangan bangsa
di masa penjajahan.Sejak saat itu PSSI mulai dikhawatirkan oleh
pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Maka sebagai bentuk untuk
menandingi PSSI nya pak Soeratin, pemerintah Hindia Belanda mendirikan
Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU) tahun 1936. Menjelang Piala
Dunia di Prancis tahun 1938, dibuatlah perjanjian kedua belah pihak
untuk mengirim perwakilan. Dikarenakan tidak menghendaki bendera yang
dipakai tim maka Ir.Soeratin membatalkan secara sepihak kesepakatan,
tapi NIVU tetap mengirim perwakilannya dengan bendera Hindia Belanda.Dan
tim tersebut adalah perwakilan Asia pertama sepanjang sejarah Piala
Dunia, yang kemudian menjadi bagian dari cikal bakal timnas Indonesia
dimasa depan.

Timnas Hindia Belanda
Sayangnya
pada saat penampilan pertama di babak penyisihan piala dunia, 5 Juni
1938, timnas tak berkutik dihadapan Hongaria (Tim yang akhirnya menjadi
runer-up). Di Stadion Auguste Delaune, Reims disaksikan sekitar 9.000
penonton timnas kita harus mengakui keunggulan Hongaria dengan skor
meyakinkan 6-0, dan memaksa timnas angkat koper lebih awal. Pengalaman
yang bagus sebenarnya buat sebuah tim yang baru terlahir..
Jejak
perjalanan Timnas Indonesia pun dimulai, sebagai tim yang disegani
dikawasan Asia. Diawali dengan kemampuan Timnas merah-putih menembus
semi final Asian games 1954 di Manila, walaupun harus mengakui
keunggulan timnas Taiwan kala itu dengan skor 4-2. Kemudian pada
Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia mengirimkan tim sepak bola. Catatan
manis mulai ditorehkan, timnas garuda mampu menembus babak perempat
final. Di perempat final timnas garuda sudah harus melakukan duel class
of titans dengan favorit juara, timnas Uni Soviet. Sempat menahan imbang
0-0 di match pertama, tapi dimatch ke 2 yang merupakan ulangan, timnas
kita dipermak dengan skor 4-0.
Sejak saat itu Timnas Indonesia
beserta klub-klub dibawah naungan PSSI menyandang predikat “Macan Asia”,
sebuah masa keemasan yang menjadi sejarah masa lalu diera 60-80an.
Bahkan dulu kompetisi Galatama kita ditiru formatnya oleh kompetisi
J-Legaue Jepang, dari masalah manajeman sampai kompetisi Jepang
benar-benar belajar dari PSSI. Bayangkan untuk tim Asian All-Star
1966-70, timnas menyumbang empat pemain seperti Soetjipto Soentoro,
Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Jepang dan Korsel yang
saat ini menjadi langganan Piala dunia pun saat itu tak ada apa-apanya
dibandingkan timnas kita. Apalagi yang namanya Thailand, Singapura
bahkan Malaysia mereka bukan level buat timnas kita. Sepakbola kita
sudah terbiasa bertanding dalam sebuah turnamen maupun ujicoba dengan
tim-tim elite dunia. Meskipun sekarang keadaanya benar-benar terbalik
dari masa itu, dimana timnas kita sekarang “tertinggal langkah” oleh tim
seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. Bahkan jangan samakan dengan
Jepang maupun Korsel untuk saat ini.
Dan berikut 13 pertandingan
sepakbola Indonesia menghadapi timnas luar maupun klub elite dunia dari
era galatama, perserikatan sampai sekarang yang menurut saya dapat
dijadikan sebuah memorable match.
1. vs Dynamo Moscow (USSR/Rusia) - 1970
PSSI 1970
Untuk list
pertama saya sengaja memilih match ini, saat timnas Garuda menghadapi
Dynamo Moscow 14 Juni 1970. Saat itu Dynamo Moscow membawa kiper
legendaris dan terbaik dunia Lev Yashin. Pada pertandingan tersebut
timnas kita dipaksa menyerah dengan skor tipis 0-1. Dalam match itu
sebenarnya Indonesia mendapatkan beberapa peluang emas melalui trio
Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris dan Jacob Sihasale tapi seperti yang
kita ketahui bahwa penjaga utama pertahanan Dynamo Moscow saat itu
adalah sosok legendaris Lev Yashin.
2. vs Feyenord Rotterdam (Belanda) - 1965
Feyenord 1965
Ini adalah tur
pertama timnas kita keluar negeri, Pada 9 Juni 1965 timnas garuda
bertandang ke Rotterdam Belanda untuk menghadapi Feyenord yang saat itu
dikapteni oleh Guus Hidink. Walaupun sempat unggul cepat dimenit kedua
babak pertama melalui sang kapten Soetjipto Soentoro, sampai babak
pertama berakhir, dibabak kedua feyenord dapat membalik keadaan menjadi
6-1. Yang saat itu kabarnya memang sengaja untuk kemengan Feyenord
karena adanya faktor politik dan wasit.
3. vs SV Werder Bremen (Jerman) - 1965
PSSI 1965 Germany
Ini adalah tur
kedua timnas kita, dan untuk kali ini tim Garuda bertandang ke Jerman
Barat menghadapi juara bertahan saat itu, Werder Bremen. Walaupun timnas
kita bisa mencetak banyak goal, timnas kita tetap harus mengakui
keunggulan tim tuan rumah dengan skor 6-5. Dalam match ini Soetjipto
Soentoro berhasil mencetak hatrick pada menit 30, 41 dan 58, yang
membuat dia bersama rekannya Max Timisela mendapat pujian dan tawaran
bermain di werder Bremen oleh sang pelatih Gunther Brocker yang notabene
selain melatih Bremen dia adalah kepala pelatih timnas Jerman Barat
saat itu. Namun saat itu ditolak dengan alasan bahwa mereka akan lebih
senang bermain untuk negara mereka sendiri dan untuk persiapan
menghadapi Asean Games 1966.
4. vs Santos (Brazil) - 1975
Pertandingan yang
dihadiri sekitar 80.000 penonton saat itu, yang mempertemukan timnas
Garuda dengan Santos Fc yang diperkuat legenda sepak bola, Pele.
Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Santos.
Goal Indonesia dicetak oleh Risdianto pada menit 30 dan 71. Sedangkan 3
goal balasan Santos dicetak oleh Jedes, Edu dan Pele dari titik putih.
Sayang pertandingan ini tidak ada dokumentasi resminya dalam bentuk
foto.
5. vs Ajax Amsterdam (Belanda) - 1975
Ajax Amsterdam 1975
Pertandingan ini
adalah salah satu match dari turnamen segitiga Timnas Indonesia Tamtama,
Ajax dan Manchester United tahun 1975. Pada pertandingan ini Timnas
Indonesia harus mengakui keunggulan Ajax 4-1, yang akhirnya menjadi
juara turnamen ini.
Selain partisipasi dalam match di turnamen ini,
saat itu Ajax juga melakukan beberapa uji coba dengan klub-klub PSSI.
Yang pertama adalah tim gabungan PSSI wilayah 1 (Juara antar regional
PSSI 1974) , stadion Teladan (Sabtu, 4 Juni 1975). Dimana saat itu tim
PSSI wilayah 1 berhasil unggul dengan skor meyakinkan 4-2.
* Setelah
match tersebut, dalam beberapa kesempatan Bapak kita yang terhormat
Djohar Arifin Husin (saat belu jadi Ketum PSSI) mengatakan bahwa tim
PSSI wilayah satu yang mengalahkan Ajax adalah PSMS Medan karena
sebagian besar tim bermaterikan pemain PSMS Medan.
Pertandingan
berikutnya, Senin 9 Juni 1975 stadion Utama Senayan, Jakarta. Ajax
menjajal kekuatan Persija Jakarta. Persija mampu menahan imbang 1-1
melalui goal striker andalan timnas saat itu, Risdianto menit 21’ yang
kemudian dibalas oleh Jhony Rep, tiga menit berselang.
Dan untuk
pertandingan terakhir Ajax menyambangi Stadion Gelora 10 November
Surabaya (Rabu, 11 Juni 1975), untuk menghadapi Persebaya Surabaya.
Pertandingan sendiri berakhir untuk kemenangan Ajax dengan skor 3-2.
Padapertandingan ini gol-gol Persebaya dicetak oleh Jacob Sihasale dan
Rudi Bahalwan, sedangkan Gol dari Ajax dicetak oleh Ruud Geels (2 gol)
dan Rene Notten.
6. vs Manchester United (Inggris) - 1975
MU 1975
Ini adalah match pertama dari Turnamen segitiga Timnas Indonesia, Ajax dan MU. Dan berikut susunan skuad ke dua tim.
PSSI Tamtama:
Ronny Paslah, Sutan Harhara, Oyong Liza, Suaib Rizal, Iim Ibrahim, Anjas
Asmara, Nonon, Waskito, Junaedi Abdillah, Risdianto, Andi Lala.
Manchester
United: Alex Stepney, Alex Forsyth, Arthur Albiston, Gerry Daly, Jimmy
Nicoll, Jim McCalliog, Trevor Anderson, Sammy McIlroy, Stuart Pearson,
David McCreery, Anthony Young.
Flash backdulu,
pada awal Mei 1975, Wiel Coerver ditunjuk sebagai pelatih baru timnas
senior, yang dulu disebut Indonesia Tamtama. Coerver bukan seorang
pelatih yang minim prestasi. Pada musim 1973/1974, dia sukses membawa
Feyenord sebagai klub pertama asal Belanda yang meraih titel Piala UEFA.
Didampingi asisten pelatih, Wim Hendriks, Coerver diharapkan membawa
Indonesia lolos ke Piala Dunia 1978. Lantas, laga melawan Ajax dan
Manchester United dalam turnamen segitiga dijadikan ajang pemanasan
sebelum Pra Olimpiade 1976 melawan Korea Utara. Pertandingan PSSI
Tamtama melawan MU merupakan partai pembuka. Tommy "The Doc" Docherty
membesut The Red Devils sejak akhir musim 1972. Dia mampu menyelamatkan
MU dari jurang degradasi, tapi musim berikutnya gagal. MU terpaksa
memainkan musim 1974/1975 di Divisi Dua. Waktu itu, trio emas George
Best, Denis Law, dan Bobby Charlton sudah meninggalkan MU. Denis Law
pindah ke Manchester City pada musim 1973/1974. Penyebab terdegradasinya
MU pada musim itu karena gol Denis Law dalam derby Manchester.
Dalam
partisipasinya di turnamen segitiga, MU ternyata mengecewakan pengurus
PSSI maupun masyarakat penggemar sepakbola sejak mendarat di Bandara
Halim Perdana Kusuma. Mereka tidak mendatangkan seluruh pemain intinya
seperti yang telah dijanjikan. Rombongan mereka hanya 14 orang yang
terdiri dari 12 pemain, seorang pelatih, dan seorang manajer. Dulu, MU
bermain ala kadarnya, asal tidak kebobolan. Ketika terjadi pergantian
pemain di babak kedua, yang masuk sebagai pengganti adalah pemain
bertubuh gendut bernama Tommy Docherty, yang tidak lain dan tidak bukan
adalah sang manajer. Tugas "The Doc" dihadapan 70.000 penonton kala itu
adalah untuk mengganggu pergerakan trio penyerang Indonesia, yaitu
Waskito, Risdianto, dan Andi Lala. Tak heran, hanya dalam waktu 5 menit,
Docherty terkena kartu kuning dari wasit Kosasih Kartadireja. Pada
akhirnya, pertandingan berakhir seri 0-0 karena gawang Ronny Pasla juga
jarang dihajar tembakan penyerang MU.
7. vs Arsenal (Inggris) - 1983
Niac Mitra VS Arsenal 1983
The Gunners,
datang dengan diperkuat kiper legendaris Pat Jennings, dua pemain
nasional Inggris Kenny Sansom, dan Graham Rix serta si legenda hidup
David O’Leary, datang ke negeri Indonesia dengan tujuan utama berlibur
ke Bali . Mereka menang 3-0 atas PSMS Plus di Medan, 5-0 atas PSSI
Selection di Senayan, namun yang terjadi kemudian, tepatnya pada 17 Juni
1983 saat lawan juara Galatama, Niac Mitra di Surabaya, sungguh
mengejutkan. Arsenal takhluk dengan skor 0-2.
Menurut Kompas
waktu itu, banyak yang mencibir kekalahan Arsenal sengaja dibuat. Salah
satunya lantaran mainnya jam 2 siang, atau diusirnya Alan Sunderland
oleh wasit Ruslan Hatta. Publik Stadion 10 November menyebut dua pemain
Singapura, kiper David Lee dan Fandi Ahmad, sebagai pahlawan kota
pahlawan. Fandi, yang usai membela Niac Mitra ditransfer ke Groningen,
membuat gol di menit 37, sebelum ditutup Joko Malis di menit 85.
Data
dan Fakta Niac Mitra VS Arsenal (2:0) tanggal : 16 Juni 1983 Stadion 10
November, Surabaya pencetak gol: Fandi Ahmad 37, Joko Malis 85 Susunan
Pemain:
Niac Mitra : David Lee, Budi Aswin, Wayan Diana, Tommy
Latuperissa, Yudi Suryata, Rudy Keltjes, Rae Bawa/Yusul Male, Joko
Malis, Hamid Asnan/ Syamsul Arifin, Fandi Ahmad, Dullah Rahim/ Yance
Lilipaly
Arsenal : Pat Jennings, Colin Hill/Stewart Robson, David
O’Leary, Chris Whyte/Lee Chapman, Kenny Samson, Brian Talbot, Alan
Sunderland, Paul Davis, Brian McDermott, Raphael Meade/ Terry Lee,
Graham Rix.
8. vs PSV Eindhoven (Belanda) - 1988
Persib vs PSV 1988
Tim legendaris
asal Belanda, PSV Eindhoven pada Maret 1988 pernah berkunjung ke
Indonesia dalam rangka tur Asia bersama Phillips. Dalam turnya ini, PSV
Eindhoven dihadapkan dengan beberapa tim papan atas Indonesia. PERSIB,
yang saat itu menjadi tim yang paling bergengsi di tanah air diberi
kesempatan melayani PSV Eindhoven dalam friendly match di Stadion
Siliwangi. Yang menarik perhatian, saat itu PSV dihuni pemain-pemain
kelas dunia. Sebut saja Ruud Gullit, Ronald Koeman, Wim Kieft, dan Eric
Gerets yang pernah menjadi kapten timnas Belgia. Bahkan Ruud Gullit saat
itu tengah dalam proses kepindahan ke AC Milan yang akhirnya tercatat
sebagai pemecah rekor pemain termahal dunia kala itu.
PERSIB, yang pada
1986 menjuarai kompetisi perserikatan harus berjuang keras meladeni
Eric Gerets dkk. Maklum para punggawa Maung Bandung kalah segalanya,
secara teknis maupun postur badan. Seperti umumnya orang Asia, para
pemain PERSIB kalah tinggi dibanding pemain PSV. “Kami selalu
ketinggalan langkah dari para pemain PERSIB. Bisa diibaratkan, satu
langkah Ruud Gullit sebanding dengan tiga langkah pemain PERSIB. Tapi
saya bangga bisa berhadapan dengan Gullit, setidaknya saya telah
berusaha untuk menghadangnya sebelum memasuki daerah pertahanan PERSIB,”
ujar Adeng Hudaya, libero sekaligus kapten Maung Bandung. Bisa ditebak,
Ruud Gullit Cs. pun menang mudah. Hasil akhir dari pertandingan ini 4-0
untuk PSV Eindhoven. Gol-gol yang dijaringkan PSV umumnya hasil
shooting jarak jauh. Keempat gol PSV Eindhoven dijaringkan oleh Willy
van de Kerkhof (1), Eric Gerets (1), dan Ruud Gullit (2). Tim PERSIB
yang saat itu ditukangi oleh Nandar Iskandar dan Indra Tohir menggunakan
formasi 4-3-3. “Para pemain Eindhoven memiliki tendangan yang keras dan
akurat. Man to man marking yang dijalankan pemain PERSIB tidak bisa
berjalan optimal, ini dikarenakan postur tubuh yang beda jauh. Bahkan
di-body charge pun malahan kita yang tersungkur,” kenang Adeng.
Sukowiyono,gelandang yang saat itu tampil sebagai starter PERSIB
mengatakan formasi yang diterapkan pelatih sebenarnya efektif untuk
mengimbangi pergerakan Ruud Gullit c.s. namun harus diakui pemain PERSIB
kalah fisik. Walaupun kalah kelas, pemain PERSIB tidak gentar. Adeng
Hudaya dkk. sangat bersemangat memberikan perlawanan kepada lawannya.
Buktinya, setelah membobol gawang PERSIB empat kali di babak pertama,
usai turun minum PSV tak bisa menambah gol. “Terlepas dari hasil akhir,
bagi saya pertandingan ini jadi pengalaman berharga bagi kami, kapan
lagi bisa berhadapan dengan pemain kelas dunia seperti Ruud Gullit
Cs.,”ungkap Suko.
Minta Diganti
Gara-Gara Gullit Duel Persib
kontra PSV Eindhoven memang bak pertarungan antara David dengan Goliath,
pasalnya sebagai tim amatir, Persib harus berhadapan lawan klub elit
Liga Belanda yang juga disegani di pentas sepakbola Eropa. Tak heran
hanyak kejadian lucu yang terjadi di lapangan hijau. Pemain belakang
PERSIB kocar-kacir menghadapi tekanan beruntun dari lawannya.Tendangan
maupun sundulan kelas dunia yang amat bertenaga mengagetkan kiper PERSIB
yang dijaga Wawan Hermawan. Baru separuh babak gawang PERSIB sudah
kemasukan empat gol. “Wawan Hermawan sempat menahan bola yang ditendang
keras Ruud Gullit. Lucunya, saat Wawan mencoba menahan laju bola malahan
badan Wawan yang terbawa masuk ke gawang PERSIB,” kata Adeng sambil
tertawa. Senada dengan Adeng, Dede Rosadi yang saat itu turut andil
membela Maung Bandung berkisah, para pemain Eindhoven tidak hanya
memiliki tendangan yang keras, heading-nya pun membuat kiper Wawan
tercengang. “Saking kerasnya heading Ruud Gullit, membuat Wawan ciut. Ia
bilang sundulannya saja keras apalagi tendangannya. Di babak kedua
Wawan meminta kepada pelatih untuk diganti oleh kiper cadangan yang saat
itu dipercayakan kepada Erik Ibrahim,” ujar Dede mengenang.
9. vs AC Milan (Italia) - 1996
Persib vs AC Milan
Persib sebagai
juara Kompetisi Perserikatan terakhir 1993-1994 mendapatkan hadiah,
berupa kesempatan menjajal AC Milan, di Stadion Senayan Jakarta. Ketika
itu, AC Milan yang disebut-sebut sebagai "The Dream Team" menjuarai
Piala Champions 1994 melalukan tur Asia. Persib diperkuat Robby Darwis,
Yudi Guntara, Dede Iskandar dll., sedangkan Milan menurunkan Dejan
Savicevic, Sebastiano Rossi, Marcel Desailly, Marco Simone, Gianlugi
Lentini. Persib memang kalah telak 8-0, tetapi pelatih Milan Fabio
Capello ketika itu memberikan pujian kepada salah satu pemain Persib,
yaitu Yudi Guntara.
* Ditahun yang
sama Indonesia juga mendapat kunjungan dari tim Italia lainnya SS Lazio
dan UC Sampdoria yang bertanding dengan Tim Bintang Liga Indonesia.
10. vs Uruguay - 1974, 2010
Indonesia vs Uruguay 1974
Timnas Uruguay
pernah singgah ke Indonesia tahun 1974 untuk melakoni laga uji coba
dengan Tim Merah-Putih. Mereka datang ke Jakarta kala itu untuk melakoni
laga persahabatan untuk memperingati HUT PSSI. Tanggal dan waktu uji
coba diplot pada 19 April di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.
Disaksikan sekitar 60 ribu penonton, timnas Indonesia secara mengejutkan
menaklukkan negara asal Amerika Latin itu dengan skor 2-1. Uruguay
datang dengan tim yang dipersiapkan untuk tampil di Piala Dunia 1974.
Majalah Tempo terbitan 4 Mei 1974 mengulas aksi Sutan Harhara dkk yang
sukses mematikan gaya permainan individual ala Amerika Latin milik
Uruguay.
"Saat itu kami
tidak mengalami kesulitan berarti menghadapi mereka. Gaya permainan
hampir sama dengan kita, mengandalkan umpan-umpan pendek dan sesekali
bermain individu duel satu lawan satu. Beruntungnya kala itu timnas
Indonesia dihuni banyak pemain yang memiliki skill individu bagus," kata
Sutan . Dalam pertandingan uji coba tersebut timnas Indonesia yang
diasuh Djamiat diperkuat Rusdianto, Ronny Paslah, Abdul Kadir, Anwar
Ujang, Nabon dan Waskito. Kendali permainan dipegang Indonesia. Tim
asuhan Juan Alberto Schiaffino kala itu kerap direpotkan dengan serangan
dari sektor sayap. Merasa malu dengan kekalahan itu, Uruguay pun
meminta pertandingan ulang sehari setelah kekalahan. Mereka sukarela
tampil gratis tanpa dibayar. "Kami sih mau saja walau kondisi fisik
lelah karena berpikir kesempatan bermain melawan tim luar negeri bisa
menaikkan reputasi," ujar Sutan. Sayangnya, pada laga ulang timnas
Indonesia kalah 2-3. Walau begitu hal tersebut tak menghilangkan
kebanggaan para pemain. "Kami telah memberi pelajaran berharga kepada
mereka untuk tidak meremehkan tim-tim yang kelasnya dibawah," ucap
Sutan.
Pada tahun 2010 kedua tim bertemu kembali di stadion GUBK,
seperti yang sama-sama kita ketahui saat Itu Indonesia sudah benar-benar
kalah jauh secara kwalitas dan tekhnik. Sebagai juara ke-3 piala dunia
2010, Uruguay mampu melibas Indonesia dengan skor telak 1-7. (comeback
istimewa dari Uruguay setelah tertinggal lebih dahulu lewat gol Boaz
Salossa ).
11. vs Jerman Timur - 1964
Jerman Timur 1964
29 Oktober 1964.
Pada tahun 1964, tim nasional Jerman Timur (Republik Demokrasi Jerman)
tercatat dua kali berkunjung ke Indonesia, yaitu bulan Januari dan
Oktober. Dalam dua kunjungannya itu, Jerman Timur selalu memilih Persib
menjadi salah satu tim yang dihadapinya. Menurut catatan Novan
Herfiyana, seorang kontributor data sepak bola Indonesia untuk situs
rsssf.com, pada pertemuan pertama, Persib hanya kalah 0-2. Namun, pada
pertemuan kedua di Stadion Siliwangi Bandung pada tanggal 29 Oktober
1964, Persib benar-benar menjadi bulan-bulanan salah satu kekuatan sepak
bola di Eropa Timur dengan skor telak 1-7. Pada pertemuan kedua ini,
formasi pemain Persib yang tampil adalah Jus Etek (kiper); Masri, Ishak
Udin, Kaelani, Sunarto, Fattah/Ismail, Omo Suratmo, Wowo Sunaryo/Fattah,
Djadjang Haris, Hendra, dan Andi Achmad/Otong. Sementara timnas Jerman
Timur tampil dengan formasi Weigang (kiper) Geisler, Walter, Seehans,
Rooke, Pankau, Litsewitz, Beckhaus, Stoker, Engelhardt, dan Bauchsdiess.
*
Selain Jerman Timur, pertandingan yang pernah dilakukan Persib dengan
timnas negara luar adalah saat melawan Timnas Italia U-21, 27Juni 1977.
Dengan skor 3-1 untuk kemenangan Persib. (Persib: Max timisella,
Risnandar, Nandar Iskandar. Italia U-21: Pasinato)
* Jago juga ya
Persib ini banyak mendapat kunjungan tim-tim besar , mungkin mereka
banyak yang milih Persib karena pengen liburan kepuncak kali ya
12. vs Bayern Muenchen (Jerman) - 2008
Bepe vs Kahn
Timnas Indonesia
mendapat kunjungan dari klub raksasa Jerman, Bayern Muenchen, 21 Mei
2008. Sebuah pertandingan yang membawa nama sebuah sponsor tim Bayern
Munchen yaitu produk asuransi Allianz dengan disaksikan sekitar 70.000
penonton yang hadir langsung di stadion. Apa pasal? menjadi salah satu
dari Cukup banyak antusiasme penonton pada match ini, dikarenakan dengan
adanya tiga nama besar yg dibawa Bayern Munchen dalam tur Asia, penjaga
gawang legendaris Jerman, Sahrul khan eh maksud saya Oliver Kahn , Ze
Roberto dan legenda Belanda Van Bommel.
Di menit awal
Munchen langsung menggebrak pertahanan timnas. Hasilnya sebuah heading
dari Breno Borges menyambut tendangan bebas dari pojok kiri pertahanan
timnas berhasil menggetarkan gawang Jendri Pitoy di menit ke-20. Pemain
asal Brazil berusia 18 tahun itu pun membawa keunggulan Munchen 1-0.
Jans Schaldraf berhasil menggandakan keunggulan Munchen di menit ke-23
lewat sontekan lemah yang mengecoh Pitoy. Di menit ke-28 Bambang
Pamungkas beradu head-to-head dengan Oliver Kahn, namun sayang tendangan
kerasnya berhasil digagalkan kaki Oliver Kahn .. Akhirnya Schaldraf
membuat gol kedua sekaligus mempertegas keunggulan Munchen 3-0 dengan
gol yang dicetak menyambut umpan tendangan bebas yang secara cepat
dilakukan melewati pemain bertahan Indonesia.
Di babak kedua
timnas Indonesia mencoba mengambil inisiatif menyerang. Namun kuatnya
pertahanan Munchen mampu membendung gelombang serangan Bambang Pamungkas
dkk. Dan akhirnya pada menit ke-62 sundulan kepala khas ala Bepe
menyambut umpan silang Elie Aiboy dari sayap kanan penyerangan Indonesia
mampu merobek gawang Munchen untuk memperkecil ketertinggalan menjadi
1-3. Namun kedudukan menjadi 4-1 lewat hattrick Jan Schlaudraff di menit
ke-83 melanjutkan bola rebound hasil tendangan keras Tony Cruz dari
luar kotak penalti dan dihalau Markus Horison yang turun di babak kedua
menggantikan Jandri Pitoy. Akhirnya Tony Cruz membenamkan timnas dengan
gol penutup di menit 87. Skor akhir 5-1 untuk kemenangan Bayern Munchen
atas timnas Indonesia.
13. vs Inter Milan (Italia) - 2012
Duel duo Diego
Last but no the
least untuk match yang terakhir, saya memilih partai Indonesia lawan
Internazionale Milan yang baru beberapa bulan ini berlangsung, dimana
selain inter ditahun ini Indonesia juga mendapat kunjungan dari tim
lainya seperti LA Galaxy dengan David Beckhamnya yang membuat wanita
sampai dengan syahrini salah tingkah , QPR tim yang sebagian besar
sahamnya milik juragan Malaysia dan Valencia salah satu tim besar dari
Spanyol tapi jelas Inter Milan memang lebih memiliki nilai dan prestasi
dari tim-tim tersebut selain itu antusiasme penonton juga lebih besar
dari pada saat kedatangan tiga tim tadi, dimana yang salah satunya
diwarnai dengan kejadian mati lampu di Gelora Utama Bung Tomo, Surabaya
(match QPR).
Partai melawan Inter ini sendiri adalah Sebuah agenda
tour match dari inter milan ke Indonesia. Dengan melakukan dua kali
match melawan Indonesia selection, 24 Mei 2012 (entah mengapa lebih
banyak pemain asingnya yang justru dapat kesempatan daripada pemain
lokal ) dan Tim PSSI U-23, 26 Mei 2012. Dan Inter datang dengan membawa
cukup banyak pemain seniornya yang dipadukan dengan pemain muda dari
akademi mereka, dengan pemain seniornya seperti J.Zanetti, Cambiasso,
Palombo, Pazzini, Militto, Maicon, Cordoba serta pemain muda masa depan
mereka seperti Coutinho dan samuel Longo sukses menghibur penonton yang
datang di SUGBK, yang memang didominasi oleh sebagian besar Interisti.

Maicon vs Okto
Dimatch
yang pertama Inter Milan berhasil mengalahkan tim Indonesia selection
yang banyak mengandalkan pemain-pemain asingnya dengan skor meyakinkan
0-3. Sedangkan di match ke 2, Timnas U-23 bisa lebih memberi perlawanan,
meskipun harus kalah dengan skor 2-4, setidaknya Garuda muda bisa
mencetak dua gol ke gawang Inter Milan yang dijaga Castelazzi melalui
Patrick Wanggai dan Yoshua Pahabol. Sekaligus match ini menandai
perpisahan salah satu legenda Inter Milan, Ivan Cordoba.
* Oh ya,
dalam match ini seingat saya saat menyaksikan di TV, si Okto banyak
sekali melakukan aksi drible mencoba mengelabuhi Maicon dengan aksinya,
tapi selalu gagal melewati dan menghentikan Maicon. Dan salah satu
adegan lucunya saat Okto mencoba menggunakan gaya Cristiano Ronaldonya
dengan gocekan kiri kanan kiri kanan, berhasil dihentikan Maicon yang
Cuma berdiri santai dengan menggunakan satu kaki saja. Pelajaran deh
buat pemain Muda kita agar lebih tahu kapan saatnya membawa bola sendiri
dan kapan saatnya untuk mengumpan.
Demikian
menurut saya tiga belas(13) laga Timnas Indonesia dan tim-tim dibawah
PSSI melawan tim-tim elite dunia dan timnas luar yang bisa menjadi
kumpulan memorable match bagi sepakbola Indonesia. Bayangkan saja dengan
mulai lahirnya sepak bola Indonesia dengan diwarnai Timnas kita yang
menjadi macan Asia, timnas Indonesia yang disegani di kawasan Asia,
hingga timnas dan tim-tim dibawah naungan PSSI yang mendapat perhatian
dunia yang pada akhirnya sampai saat ini keadaan sepak bola kita menjadi
tak tentu seperti sekarang. Semoga saja sepak bola kita bisa bangkit
dan organisasi yang menaungi sepak bola kita bisa lebih “benar-benar”
peduli pada kemajuan sepakbola negeri ini. Generasi yang sekarang
tentunya juga ingin menjadi saksi dari kehebatan sepakbola Indonesia
seperti generasi terdahulu bukan.
Sang Macan Asia
Harapan
semua warga Indonesia Semoga sang macan Asia bisa kembali bangkit,
tepatnya sang Garuda bisa kembali terbang tinggi . Bayangkan saja disaat
keadaan sepakbola kita terpecah belah, kita masih bisa mendapat
kepercayaan dengan kunjungan tim-tim luar seperti Inter Milan, Valencia,
QPR dan LA Galaxy ditahun ini, terlepas dari unsur ekonomi yang mereka
bawa. Jadi jelas masih ada jalan bagi sepak bola kita untuk kembali
bangkit.